Penulis : Muhammad Hafiz Al Fajri (Mahasiswa Al Azhar Kairo)
1 Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriyah. Ia adalah simbol dari awal perjalanan besar umat Islam, sebuah titik tolak yang menyimpan makna mendalam tentang transformasi, keteguhan iman, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Sebagai mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo lembaga yang telah berabad-abad menjadi pusat keilmuan dan rujukan dunia Islam serta merupakan lulusan dari Pondok Pesantren Modern Diniyyah Pasia saya memaknai momen ini bukan hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai ajakan untuk merefleksikan kembali arah hidup kita di tengah dinamika zaman.
Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah bukanlah bentuk pelarian dari tekanan, melainkan strategi perubahan yang matang. Sebuah langkah besar menuju peradaban baru dari keterpurukan menuju kejayaan, dari penindasan menuju kebebasan beragama, dan dari kegelapan menuju cahaya ilmu. Di lingkungan Al-Azhar, kami tidak hanya diajarkan memahami teks secara literal, tetapi juga menggali makna kontekstual dan spiritual dari peristiwa hijrah tersebut. Maka dari itu, hijrah adalah panggilan untuk berpindah dari stagnasi menuju perbaikan diri, baik secara spiritual, sosial, maupun intelektual.
Sebagai pemuda Muslim yang hidup di era digital yang sarat tantangan ideologis dan derasnya arus informasi, saya melihat 1 Muharram sebagai momen untuk berbenah. Kita perlu hijrah dari sikap reaktif menjadi pribadi yang reflektif, dari gaya hidup konsumtif menuju karakter yang produktif, serta dari pemikiran sempit menuju keluasan pandangan yang Rahmatan lil ‘Alamin. Ini adalah ajakan untuk terus belajar, menata niat, dan berkontribusi bagi masyarakat dengan bekal ilmu dan akhlak.
Refleksi terbesar yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah adalah bahwa perubahan tidak selalu harus besar dan instan. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Rasulullah ﷺ memulai revolusi spiritual dari gua Hira, kemudian melangkah ke Madinah, hingga akhirnya membangun masyarakat yang berperadaban. Maka dari itu, sebagai mahasiswa Muslim, kita dituntut untuk membawa semangat hijrah itu ke dalam dunia akademik, sosial, dan juga dakwah digital—dengan cara yang bijak, adaptif, dan penuh maslahat.
Dalam rangka menyambut bulan Muharram, terdapat pula keutamaan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ, yakni berpuasa pada hari Asyura. Bahkan, kita dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 11 Muharram sebagai bentuk pembeda dari puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi.
> عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ (رواه أحمد)
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakanlah diri kalian dari kaum Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sesudahnya.’” (HR Ahmad)
Akhirnya, 1 Muharram bukan hanya menjadi awal tahun baru dalam hitungan kalender, tapi awal dari kesadaran baru dalam menjalani kehidupan. Semoga kita tidak hanya memperingati hijrah, tetapi benar-benar menghidupkan nilai-nilainya dalam setiap aspek kehidupan kita.




Komentar