oleh : Rahmad Ridwan
sumbar.ngerti.id – Angin sore itu membawa debu yang masih menggantung di udara. Gempa besar dua hari lalu mengguncang desa kecil di lereng Bukit Lembayung, menyisakan bangunan retak, tenda darurat, dan wajah-wajah yang masih diselimuti cemas.
Di antara mereka, berdiri seorang pemuda bernama Rafka, memandang puing rumahnya yang dulu penuh tawa. Kini hanya tinggal tembok yang miring dan genteng yang berserakan.
“Kenapa harus terjadi sekarang, Ya Allah…?” gumamnya lirih, tangannya meremas ujung jaket yang robek.
Ia sudah kehilangan banyak: rumah, beberapa barang berharga, bahkan masjid kecil tempat ia sering menenangkan diri sudah rata dengan tanah. Malam-malamnya berubah menjadi hening yang menakutkan, di bawah tenda pengungsian yang berisik tapi terasa sepi di dalam hatinya.
Namun ada sesuatu yang tak pernah padam dari sosok tua yang duduk tak jauh dari tenda itu.Pak Darwis, guru mengaji kampung yang dikenal paling sabar. Meski rumahnya ikut roboh, wajahnya tetap teduh, seakan ia menyimpan cahaya yang tak bisa diruntuhkan oleh gempa mana pun.Sore itu, Rafka memberanikan diri mendekat.
“Pak… apa tidak takut? Tidak sedih? Masjid kita jatuh. Rumah bapak juga hilang. Kenapa bapak bisa tetap tenang?”
Pak Darwis tersenyum, mengusap jenggot putihnya yang kusut oleh debu.”Rafka, ketenangan itu bukan karena tidak ada masalah. Tapi karena kita tahu ke mana harus kembali ketika dunia mulai goyah.”
“Ke mana, Pak?”
“Ke Allah. Justru bencana ini mengingatkan kita bahwa kita terlalu nyaman. Terlalu sering lupa. Bukan imannya yang hancur, tapi kita diminta membangunnya kembali.”
Rafka terdiam. Kata-kata itu menampar lembut, tapi meninggalkan bekas hangat di dadanya.Malamnya, ketika hujan turun rintik-rintik dan para pengungsi saling merapat, Pak Darwis meminta semua orang berkumpul di tengah tenda besar. Lampu emergency kecil menggantung, redup namun cukup untuk menerangi wajah-wajah yang lelah.
“Saudaraku,” ucap Pak Darwis dengan suara serak, “kita mungkin kehilangan rumah. Kehilangan pakaian. Kehilangan kenyamanan. Tapi jangan sampai kehilangan harapan dan iman.”
Suara hujan seolah berhenti untuk mendengarkan.“Kualitas iman bukan diuji saat kita bahagia, tapi saat semuanya runtuh di depan mata. Justru di momen seperti ini, Allah sedang memanggil kita lebih dekat.”
Rafka merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya sebuah rasa yang sudah lama hilang. Ia memejamkan mata, mengingat malam-malam ketika ia berdoa tanpa terburu-buru, ketika hati masih penuh syukur meski hidup sederhana.
Setelah doa bersama, ia kembali ke sudut tendanya. Untuk pertama kalinya sejak bencana, ia menengadahkan tangan, perlahan tapi yakin.
“Ya Allah… aku mengerti. Kuatkan aku. Bimbing aku…”
Ada kedamaian yang turun pelan-pelan, seperti hujan yang menenangkan tanah retak.
Keesokan harinya, Rafka bangun lebih pagi. Ia ikut relawan membersihkan reruntuhan masjid. Meskipun fisiknya payah, ada energi baru yang tumbuh dari dalam. Setiap batu yang ia angkat terasa seperti menyingkirkan satu keraguan dari hatinya.
“Bagus, Nak,” ujar Pak Darwis dari kejauhan.
Rafka tersenyum kecil. “Kalau bangunan bisa kita dirikan lagi, iman juga bisa kita tinggikan lagi, kan Pak?”
Pak Darwis mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Benar. Dan kau baru saja memulainya.”
Hari-hari berikutnya, desa itu perlahan bangkit. Dan dari reruntuhan itu, bukan hanya bangunan yang tumbuh kembali. Hati-hati yang sebelumnya rapuh pun kembali menemukan cahaya, termasuk hati Rafka.
Bencana telah membawa luka, tapi juga membawa sebuah pelajaran:
bahwa kadang, untuk meningkatkan kualitas iman, kita harus melalui jalan yang berdebu, terjal, dan penuh air mata.Namun di ujungnya, selalu ada cahaya meski kecil yang menuntun pulang.




Komentar