Close sidebar
Advertisement
Minibus Terjun 50 Meter ke Jurang Lembah Anai, Nasib Tujuh Penumpang Tragis? | Perkuat Reformasi Birokrasi, Bawaslu Kota Padang Tekankan Implementasi Nyata dalam Pengawasan | Massa NasDem Geruduk Kantor Tempo Protes Sampul Karikatur Surya Paloh | Prabowo dan Putin Bahas Kerja Sama Energi serta Tantangan Pasokan Minyak di Tengah Krisis Global | Kritik Dikecam, Kekuasaan Diamankan, GMNI Sumbar: Gerakan Mahasiswa Disandera Kepentingan? | Maraknya Pelecehan Seksual pada Anak Sekolah: Saatnya Peran Guru BK Diperkuat | PDI Perjuangan Agam Merandang Bersama Warga Palembayan | KLAIM SEPIHAK , agenda DPC GMNI Bukittinggi silaturahmi dengan DPP GMNI bukan Konsolidasi | Jalan Pulang Pemuda Desa Menuju Kedaulatan Pangan Nasional | Mahasiswa KKN UNP Sosialisasikan POC dan Pestisida Nabati di Nagari Simpang Sugiran | KKN UNP Perkuat Kebun Dasa Wisma di Durian Kapeh Darussalam | 21 Mahasiswa, Satu Pengabdian Besar: Jejak KKN Universitas Andalas di Pasia Laweh | Bawaslu Kota Padang dan GMNI Perkuat Kolaborasi Dorong Pengawasan Partisipatif Mahasiswa | Padang Rencanakan “Car Free Night” untuk Revitalisasi Kawasan Kota Tua | Perkuat Peran Pramuka, Saka Adhyasta Pemilu Kota Padang Resmi Dilantik | Mahasiswa KKN Pakandangan Universitas Andalas Gelar Edukasi SeksualAnak di SD Negeri 12 Enam Lingkung | Pengajian Akbar Subuh Bersama Syekh Abdullah Jaber, Jamaah Padati Masjid Baitul Makmur Nagari Minangkabau | BKPRMI Salurkan Wakaf Al-Qur’an di Nagari Pasia Laweh, Dibersamai Mahasiswa KKN Universitas Andalas | Menakar Percepatan Pemulihan Pasca-Bencana Kota Padang: Sebuah Ikhtiar Kemanusiaan dan Kebijakan | Konfercab II GMNI Kota Bukittinggi Resmi Dibuka, Dihadiri Wakil Ketua DPRD | Mahasiswa KKN UNAND Bangun Pegangan Jalan untuk Lansia di Lubuk Paranggai | Mahasiswa KKN Unand Sosialisasi Hak dan Kewajiban Warga Negara di SDN 08 Salibawan | Survei Polstra: 75,6 Persen Warga Dharmasraya Puas Terhadap Kinerja Annisa-Leli | Di Tengah Tenda Bencana, Yogi Yolanda Dilantik jadi Ketua DPC PDI-P Agam | ZFoundation Semarang Bersama IADP Gelar Volunteer Trauma Healing di Nanggalo Padang |
Opini
Beranda / Opini / Pelita di Balik Reruntuhan

Pelita di Balik Reruntuhan

oleh : Rahmad Ridwan

sumbar.ngerti.id – Angin sore itu membawa debu yang masih menggantung di udara. Gempa besar dua hari lalu mengguncang desa kecil di lereng Bukit Lembayung, menyisakan bangunan retak, tenda darurat, dan wajah-wajah yang masih diselimuti cemas.

Di antara mereka, berdiri seorang pemuda bernama Rafka, memandang puing rumahnya yang dulu penuh tawa. Kini hanya tinggal tembok yang miring dan genteng yang berserakan.

“Kenapa harus terjadi sekarang, Ya Allah…?” gumamnya lirih, tangannya meremas ujung jaket yang robek.

Ia sudah kehilangan banyak: rumah, beberapa barang berharga, bahkan masjid kecil tempat ia sering menenangkan diri sudah rata dengan tanah. Malam-malamnya berubah menjadi hening yang menakutkan, di bawah tenda pengungsian yang berisik tapi terasa sepi di dalam hatinya.

Menakar Percepatan Pemulihan Pasca-Bencana Kota Padang: Sebuah Ikhtiar Kemanusiaan dan Kebijakan

Namun ada sesuatu yang tak pernah padam dari sosok tua yang duduk tak jauh dari tenda itu.Pak Darwis, guru mengaji kampung yang dikenal paling sabar. Meski rumahnya ikut roboh, wajahnya tetap teduh, seakan ia menyimpan cahaya yang tak bisa diruntuhkan oleh gempa mana pun.Sore itu, Rafka memberanikan diri mendekat.

“Pak… apa tidak takut? Tidak sedih? Masjid kita jatuh. Rumah bapak juga hilang. Kenapa bapak bisa tetap tenang?”

Pak Darwis tersenyum, mengusap jenggot putihnya yang kusut oleh debu.”Rafka, ketenangan itu bukan karena tidak ada masalah. Tapi karena kita tahu ke mana harus kembali ketika dunia mulai goyah.”

“Ke mana, Pak?”

“Ke Allah. Justru bencana ini mengingatkan kita bahwa kita terlalu nyaman. Terlalu sering lupa. Bukan imannya yang hancur, tapi kita diminta membangunnya kembali.”

Kurikulum 2013: Antara Harapan Besar dan Realita yang Masih Jauh dari Ideal

Rafka terdiam. Kata-kata itu menampar lembut, tapi meninggalkan bekas hangat di dadanya.Malamnya, ketika hujan turun rintik-rintik dan para pengungsi saling merapat, Pak Darwis meminta semua orang berkumpul di tengah tenda besar. Lampu emergency kecil menggantung, redup namun cukup untuk menerangi wajah-wajah yang lelah.

“Saudaraku,” ucap Pak Darwis dengan suara serak, “kita mungkin kehilangan rumah. Kehilangan pakaian. Kehilangan kenyamanan. Tapi jangan sampai kehilangan harapan dan iman.”

Suara hujan seolah berhenti untuk mendengarkan.“Kualitas iman bukan diuji saat kita bahagia, tapi saat semuanya runtuh di depan mata. Justru di momen seperti ini, Allah sedang memanggil kita lebih dekat.”

Rafka merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya sebuah rasa yang sudah lama hilang. Ia memejamkan mata, mengingat malam-malam ketika ia berdoa tanpa terburu-buru, ketika hati masih penuh syukur meski hidup sederhana.

Setelah doa bersama, ia kembali ke sudut tendanya. Untuk pertama kalinya sejak bencana, ia menengadahkan tangan, perlahan tapi yakin.

“Kurikulum Merdeka: Antara Semangat Kebebasan dan Tantangan Ketimpangan, Solusi Nyata Menanti”

“Ya Allah… aku mengerti. Kuatkan aku. Bimbing aku…”

Ada kedamaian yang turun pelan-pelan, seperti hujan yang menenangkan tanah retak.

Keesokan harinya, Rafka bangun lebih pagi. Ia ikut relawan membersihkan reruntuhan masjid. Meskipun fisiknya payah, ada energi baru yang tumbuh dari dalam. Setiap batu yang ia angkat terasa seperti menyingkirkan satu keraguan dari hatinya.

“Bagus, Nak,” ujar Pak Darwis dari kejauhan.

Rafka tersenyum kecil. “Kalau bangunan bisa kita dirikan lagi, iman juga bisa kita tinggikan lagi, kan Pak?”

Pak Darwis mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Benar. Dan kau baru saja memulainya.”

Hari-hari berikutnya, desa itu perlahan bangkit. Dan dari reruntuhan itu, bukan hanya bangunan yang tumbuh kembali. Hati-hati yang sebelumnya rapuh pun kembali menemukan cahaya, termasuk hati Rafka.

Bencana telah membawa luka, tapi juga membawa sebuah pelajaran:
bahwa kadang, untuk meningkatkan kualitas iman, kita harus melalui jalan yang berdebu, terjal, dan penuh air mata.Namun di ujungnya, selalu ada cahaya meski kecil yang menuntun pulang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *