Gaza, sumbar.ngerti.id – Kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang hendak menuju Jalur Gaza dicegat oleh Angkatan Laut Israel pada Rabu (2/10/2025). Penyelenggara menyebut bahwa 13 kapal dihentikan dan sekitar 223 aktivis telah ditahan. Israel membantah bahwa ada kapal yang berhasil menembus blokade laut mereka, dan menyebut misi itu sebagai provokasi.
Militer Israel, melalui pernyataan resmi, menyatakan bahwa kapal‑kapal flotilla telah diperingatkan bahwa mereka “melanggar blokade laut yang sah” dan diperintahkan untuk mengubah haluan menuju pelabuhan Ashdod, tempat bantuan akan diperiksa terlebih dahulu sebelum disalurkan ke Gaza. Sebagaimana dikutip dalam laporan media, Israel menyebut bahwa “beberapa kapal dari flotilla telah berhenti dengan aman dan para penumpangnya dipindahkan ke pelabuhan Israel.”
Namun, penyelenggara Sumud Flotilla menyatakan bahwa sekitar 30 kapal masih melanjutkan perjalanannya menuju Gaza, dan beberapa di antaranya diklaim telah mencapai jarak kurang dari 46 mil laut dari pantai Gaza. Mereka juga melaporkan adanya gangguan komunikasi dan manuver kapal perang Israel yang mendekat.
Dugaan bahwa tiga relawan asal Malaysia yang berada di kapal Alma ditahan oleh militer Israel turut mencuat. Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Malaysia merilis pernyataan resmi bahwa pemerintah sedang berupaya menjamin keselamatan dan pembebasan segera bagi 15 warga Malaysia yang ditahan dalam insiden tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa semua tahanan berada dalam kondisi sehat dan akan dideportasi ke negara ketiga jika tidak dapat langsung kembali ke Malaysia.
Pemerintah Indonesia pun turut memberi respons. Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia menyatakan dukungannya terhadap misi kemanusiaan ini dan menjamin perlindungan bagi warganya yang ikut serta. Dalam pernyataan resminya, Indonesia menyebut telah menyediakan fasilitasi melalui kedutaan di Tunisia dan mengantisipasi risiko yang mungkin dihadapi selama perjalanan menuju Gaza.
Misi Sumud Flotilla dirancang sebagai aksi solidaritas global untuk menyalurkan bantuan ke Gaza yang hingga kini berada di bawah blokade laut dan darat. Meski digambarkan sebagai misi damai, Israel menilai aksinya sebagai provokasi terhadap keamanan negaranya.
Situasi di perairan sekitar Gaza diperkirakan masih berkembang: apakah kapal yang belum dicegat akan berhasil mendekat ke pesisir, bagaimana nasib para aktivis yang ditahan, dan respons diplomatik dari berbagai negara turut menjadi sorotan publik.




Komentar