Oleh : Zaky Satria
Padang, sumbar.ngerti.id – Di tengah derasnya arus budaya global, dua nama paling sering muncul di layar penonton dunia: Netflix dan Bollywood. Keduanya sama-sama besar dan sama-sama melintasi batas negara, tetapi cara penonton internasional memaknai keduanya ternyata sangat berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi pintu masuk untuk memahami posisi Indonesia dalam peta budaya global.
Tulisan ini berangkat dari wawancara daring dengan 17 responden internasional dari sepuluh negara, mulai dari Noah King di Jeju, Korea Selatan; Carla di Luxembourg; Adam Bartos di Hungaria; Lina Nafie di Dublin; hingga Yusuf Usman Dauda di Nigeria dan Arnav Srivastava di India. Wawancara dilakukan secara informal melalui percakapan singkat di WhatsApp, Instagram, dan Discord. Responden dipilih berdasarkan ketersediaan dan jaringan internasional yang ada, sehingga temuan ini bukan representasi global secara statistik, tetapi memberi gambaran awal tentang bagaimana penonton dari berbagai negara membaca fenomena Netflix dan Bollywood.
Netflix sebagai Mesin Ekonomi Global
Sebagian besar responden menggambarkan Netflix bukan sebagai ruang budaya, tetapi sebagai perusahaan global.
Adam Bartos (Hungaria) menyebutnya singkat: “global company.”
Farah Fudjasmedi (Sudan) mengaitkannya dengan “global economy.”
Yusuf Usman Dauda (Nigeria) menilai Netflix sekadar “company.”
Sementara Lina Nafie (Irlandia) menambahkan kritik bahwa Netflix memang untuk semua orang, tetapi harus “lebih banyak mendukung kreator lokal.”
Tidak ada dari mereka yang melihat Netflix sebagai medium representasi budaya. Bagi penonton internasional, Netflix adalah struktur ekonomi: platform yang bekerja dengan logika pasar, memusatkan keuntungan, dan cenderung memperkuat dominasi konten Amerika.
Bagi Indonesia, cara pandang ini menjadi peringatan. Jika tidak diatur, Netflix, Disney+, Amazon Prime, dan HBO hanya akan memperlakukan Indonesia sebagai pasar konsumsi, bukan tempat produksi budaya. Regulasi OTT perlu diperjelas, mulai dari kuota konten lokal, kewajiban investasi produksi asli di Indonesia, hingga pajak digital dan transparansi algoritma. Kebijakan ini penting agar industri kreatif Indonesia tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga memiliki ruang untuk menghasilkan karya. Masalah lain adalah posisi film-film daerah. Tanpa kebijakan afirmasi, cerita dari Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, atau Indonesia Timur berisiko hilang dari radar, tenggelam oleh konten global yang lebih kuat secara modal.
Bollywood: Ketika Budaya Menjadi Kekuatan
Berlawanan dengan Netflix, para responden memaknai Bollywood sebagai budaya yang hidup.
Arnav Srivastava (India) menyebutnya bagian dari “cultural globalization.”
Julianna Go (Filipina) melihatnya sebagai “cultural resistance,” simbol perlawanan terhadap dominasi Hollywood.
Rain (Suriname) menyebutnya “cultural globalization.”
YoonJi Kim (Korea Selatan) menilai Bollywood sebagai arus budaya India yang menyebar luas.
Bahkan Shristi (India) menjawab sangat personal: “I just love binge watching.”
Tidak satu pun responden menyebut Bollywood sebagai “company.”
Dari Jeju sampai Muscat, dari Manila hingga Dublin, Bollywood dipahami sebagai identitas, bukan sekadar industri.
Bollywood mampu menembus pasar global karena membawa narasi budaya India yang konsisten, musik, tarian, bahasa, pakaian, hubungan keluarga, hingga gaya cerita yang khas. Semua unsur itu terikat menjadi identitas budaya yang mudah dikenali. Indonesia seharusnya belajar dari sini. Berbagai daerah di Indonesia memiliki kekuatan naratif yang luar biasa: Randai dan Silek dari Minangkabau; wayang dan gamelan dari Jawa; ritual Bali; dunia maritim Bugis-Makassar; musik dan visual Papua. Namun kekayaan ini sering hanya diposisikan sebagai tradisi, bukan brand budaya yang bisa diolah menjadi karya populer yang berdaya global.
Penonton Global Tidak Pasif, Konten Harus Punya Makna Emosional.
Wawancara menunjukkan bahwa penonton dunia tidak menonton secara pasif.
Arnav memaknainya sebagai globalisasi budaya.
Julianna melihatnya sebagai resistensi.
Shristi menontonnya karena suka.
Hal sederhana ini menunjukkan bahwa sebuah konten hanya bertahan jika mampu berbunyi secara emosional bagi penontonnya. Bagi Indonesia, film dan konten lokal harus relevan secara universal, tema keluarga, identitas, hubungan generasi, perjuangan hidup, cinta, ketidakadilan, semua ini sangat kaya dalam budaya Indonesia tetapi belum dikemas modern untuk pasar global. Indonesia tidak perlu takut menjelaskan budayanya, tetapi perlu melakukannya dengan cara yang dapat dinegosiasi oleh penonton internasional.
Indonesia Membutuhkan Peta Jalan Budaya Nasional.
Temuan wawancara memperjelas: Netflix adalah contoh dominasi pasar, Bollywood adalah contoh kekuatan budaya. Indonesia memerlukan kombinasi keduanya—regulasi ekonomi yang kuat dan strategi budaya yang terarah.
Negara perlu menyusun Indonesian Cultural Industries Roadmap, yang mencakup:
- Perlindungan industri film nasional melalui insentif, dana produksi, dan standar kerja;
- Diplomasi budaya berbasis media populer melalui festival internasional dan kerja sama dengan diaspora;
- Penetrasi budaya Indonesia melalui platform global dengan mendorong produksi “Original Indonesia”;
- Pembangunan ekosistem talenta muda melalui pendidikan film terjangkau, inkubator kreatif, dan pendanaan awal bagi sutradara baru.
Dengan strategi ini, Indonesia dapat bergerak dari sekadar konsumen menjadi produsen budaya global.
Indonesia Tidak Bisa Pasif.
Dari Noah King (Jeju) hingga Asmita Manger (India), responden memberikan gambaran yang sama: Netflix dilihat sebagai kekuatan ekonomi, Bollywood sebagai kekuatan budaya, dan penonton sebagai pihak yang aktif. Jika Indonesia ingin tetap relevan dalam arus budaya global, negara ini tidak bisa hanya menonton dari pinggir. Regulasi perlu diperkuat, budaya perlu dikemas dengan cara yang sesuai zaman, dan industri kreatif membutuhkan dukungan nyata. Tanpa langkah seperti itu, Indonesia akan terus berada di posisi penerima, mengonsumsi budaya dari luar tanpa ikut menentukan arah.




Komentar