Padang, sumbar.ngerti.id – Peringatan Haul ke-56 Bung Karno tingkat Provinsi Sumatera Barat berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat kebangsaan di Meeting Room Hotel Axana Padang, Sabtu (27/6). Kegiatan yang memperingati wafatnya Presiden pertama Republik Indonesia tersebut dihadiri sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, serta organisasi lintas agama di Sumatera Barat. Acara tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa Bung Karno, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk mengaktualisasikan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia, serta sambutan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti pembacaan Surah Yasin, doa lintas agama yang dipimpin oleh tokoh dari Islam, Kristen, dan Katolik, kemudian memasuki sesi utama berupa refleksi bertajuk “Api Perjuangan Bung Karno dalam Lanskap Kepemudaan Sumatera Barat”. Kegiatan ditutup dengan pemberian santunan kepada 56 anak yatim, foto bersama, dan makan siang sebagai simbol kebersamaan seluruh peserta.
Dalam sambutannya, Alex Indra Lukman menegaskan bahwa hubungan Bung Karno dengan Ranah Minang memiliki ikatan sejarah yang erat dan tidak dapat dipisahkan.
“Bung Karno dan Ranah Minang merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Wakil Presiden beliau itu merupakan orang Minangkabau, dan beliau sendiri merupakan urang sumando di Ranah Minang ini,” ujarnya.
Menurut Alex, kedekatan historis tersebut menjadi alasan kuat bagi masyarakat Sumatera Barat untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda. Ia menilai semangat nasionalisme, persatuan, dan keberpihakan kepada rakyat yang diwariskan Sang Proklamator tetap relevan dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini.
Momentum haul juga diisi dengan pembacaan Surah Yasin dan doa lintas agama yang melibatkan pemuka agama Islam, Kristen, dan Katolik. Suasana tersebut mencerminkan semangat toleransi serta persatuan dalam keberagaman yang selama ini menjadi salah satu nilai yang diperjuangkan Bung Karno. Seluruh peserta mengikuti prosesi tersebut dengan khidmat sebelum memasuki sesi refleksi kepemudaan.
Pada sesi refleksi bertema “Api Perjuangan Bung Karno dalam Lanskap Kepemudaan Sumatera Barat”, seluruh ketua maupun perwakilan Organisasi Kepemudaan (OKP) yang hadir menyampaikan pandangan reflektif sesuai perspektif organisasi masing-masing mengenai relevansi ajaran Bung Karno dalam kehidupan sosial, politik, dan kebangsaan saat ini.
Salah seorang Ketua OKP menyampaikan bahwa peringatan Haul Bung Karno tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus melanjutkan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Presiden pertama Republik Indonesia tersebut.
“Dalam momentum refleksi Bung Karno ini, kita harus tetap senantiasa menyalakan api perjuangannya, dengan senantiasa berpihak kepada rakyat kecil yang selalu beliau perjuangkan sepanjang hayatnya. Kita harus senantiasa bergotong royong demi kemajuan bangsa ini,” ungkapnya.
Pandangan tersebut mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Berbagai organisasi yang mengikuti forum refleksi juga menekankan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat solidaritas antarpemuda, serta mengedepankan semangat gotong royong sebagai modal sosial dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.
Sebanyak 20 organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, di antaranya GMNI, PMII, HMI, IMM, GAMKI, GMKI, Pemuda Katolik, SEMMI, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, IPM, PMKRI, IPNU, IPPNU, Sapma Pemuda Pancasila, Pemuda Perti, serta sejumlah himpunan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat. Kehadiran berbagai organisasi dengan latar belakang yang beragam menunjukkan komitmen bersama dalam merawat ruang dialog kebangsaan di kalangan generasi muda.
Sebagai penutup rangkaian acara, panitia menyerahkan santunan kepada 56 anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial yang menjadi bagian dari peringatan Haul ke-56 Bung Karno. Kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama dan makan siang yang diikuti seluruh peserta sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan lintas organisasi.
Melalui penyelenggaraan Haul ke-56 Bung Karno ini, panitia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga mampu memperkuat kolaborasi antarlembaga kepemudaan di Sumatera Barat. Nilai-nilai perjuangan Bung Karno, seperti persatuan, gotong royong, keberanian berpihak kepada rakyat kecil, serta semangat kebangsaan, diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam berkontribusi bagi pembangunan bangsa.




Komentar