Padang, sumbar.ngerti.id — Hujan deras yang tak kunjung reda selama beberapa hari terakhir kembali membawa duka bagi warga Kota Padang. Pagi ini, sekitar pukul 06.15 WIB, Jembatan Gunuang Nago — satu-satunya akses dekat yang menghubungkan Kelurahan Lambuang Bukik dan Kapalo Koto — putus dihantam derasnya arus sungai yang debitnya meningkat tajam.
Berdasarkan laporan cuaca BMKG untuk wilayah Kota Padang hari ini, kondisi masih didominasi hujan dengan kelembapan tinggi dan jarak pandang yang menurun. Curah hujan beberapa hari terakhir juga berada pada kategori signifikan, sebuah tanda bahwa intensitas hujan memang cukup ekstrem dan memicu derasnya aliran sungai.
Putusnya jembatan sontak menghentikan aktivitas warga yang mengandalkan jalur itu setiap hari. Mereka kini terpaksa mencari jalur alternatif yang jaraknya jauh lebih panjang dan waktu tempuh yang tidak menentu.
Di tengah kepanikan dan kebingungan, seorang mahasiswa Universitas Andalas, Khalilur Rahman, yang tinggal di kos dekat lokasi kejadian di Kelurahan Lambuang Bukik, menceritakan betapa besarnya dampak peristiwa ini bagi kehidupan mereka.
“Jembatan ini satu-satunya akses terdekat kami mahasiswa untuk pergi ke kampus. Setelah ini pasti sangat kewalahan harus memutar jarak jauh. Rasanya seperti terputus dari dunia luar,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Peristiwa ini membuat banyak mahasiswa dan warga lokal terjebak dalam situasi yang sulit. Rutinitas terganggu, waktu tempuh melonjak berkali-lipat, dan rasa cemas menyelimuti warga yang khawatir akan kondisi cuaca yang masih belum bersahabat.
Hingga saat ini, warga sekitar masih berkumpul di tepi jalur yang runtuh, memandangi sisa-sisa jembatan yang selama ini menjadi denyut nadi aktivitas mereka. Banyak yang berharap akses tersebut dapat segera kembali pulih — bukan hanya sebagai jalan, tetapi sebagai penghubung kehidupan mereka sehari-hari.




Komentar