Oleh: Zaky Satria
Padang, sumbar.ngerti.id – Jalan Pasar Baru tak pernah kehilangan denyutnya. Dari pagi hingga dini hari, aroma kopi dari Bengras Coffee seolah jadi penanda bahwa selalu ada ruang untuk duduk, bercerita, dan mengenal orang baru.
Setiap malam, ketika toko-toko mulai menutup pintunya, Bengras justru membuka tirainya. Dari balik dinding kedai yang beraroma kopi itu, lahirlah percakapan, tawa, dan kadang damai sunyi yang tentram, saat kendaraan pulang ke garasinya masing-masing. Banyak orang datang bukan semata untuk menyeruput kopi, tapi untuk berhenti sejenak dari riuh kota, menenangkan diri di antara denting gelas dan mesin espresso.
Dari Bandung ke Pasar Baru
Bengras berdiri sejak tahun 2013, dibawa oleh Rahmad, yang pernah menempuh kuliah di Telkom Bandung. Di kota kembang itu, ia mengenal Bengras pertama kali.
“Bang Rahmad dulu sering nongkrong di Bengras Bandung,” cerita Raihan Restu Awdi, barista muda yang kini menjadi wajah tetap Bengras Pasar Baru. “Karena sudah akrab, beliau minta izin buat bawa Bengras ke Padang.”
Awalnya, setahu dia, Bengras Pasar Baru hanyalah gerobak kecil di tepi irigasi. Tanpa papan nama besar, tanpa mesin modern, hanya lampu redup, kopi, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai. Dari gerobakan itu tumbuh filosofi yang terus dijaga hingga kini:
“Tina Ngopi Jadi Dulur” yang artinya dari ngopi menjadi saudara.
Kopi adalah Seni
Biji kopi Bengras datang dari Bandung, dari roastery yang sudah menjadi bagian dari kisah panjangnya. Hubungan tersebut dijaga seperti sahabat lama: jauh, namun selalu terhubung oleh rasa.
Di antara pilihan menu, kopi moka menjadi favorit. Rasanya lembut tapi kuat, manis dan pahitnya berjalan berdampingan, seperti percakapan yang jujur di tengah malam.
“Kopi adalah seni,” ucap Raihan sambil menatap uap panas yang naik perlahan dari gelas. “Ia butuh perasaan dan kepekaan. Cara menggiling, cara menyeduh, bahkan cara menatap kopi itu sendiri, semuanya menentukan rasa.”
Bagi Raihan, kopi bukan sekadar cairan hitam yang mengusir kantuk, melainkan karya kecil yang diulang setiap malam. Seumpama ritual yang menghubungkan manusia lewat kesabaran dan kesungguhan.
Ruang bagi Kata dan Nada
Bengras kini bersiap menjadi lebih dari sekadar tempat diskusi. Dalam waktu dekat, tempat ini akan menggelar Malam Puisi Padang, ruang bagi musik, sastra, dan suara-suara yang lahir dari rasa ingin berbagi.
“Kami ingin Bengras jadi tempat di mana orang bebas berekspresi,” kata Raihan. “Biar kata dan nada bisa duduk satu meja dengan kopi.”
Di bawah cahaya lampu jalan, melodi gitar akustik, denting sendok dengan gelas, dan hangat tawa di antara pelanggan. Bengras berubah menjadi ruang keluarga yang tak punya dinding, tempat di mana manusia yang datang bukan untuk pamer, tapi untuk saling merasa.
Di Sela Kehangatan
Dari luar, Bengras tampak seperti kedai kecil di tepi jalan. Namun bagi mereka yang pernah duduk di kursinya, tempat ini lebih dari sekadar persinggahan. Setiap tamu disambut sebagai dulur, bukan pelanggan.
Bengras tumbuh dari keakraban dan niat baik, dari tangan-tangan yang percaya bahwa kedai kopi pun bisa menjadi seni, asal dijalankan dengan hati. Dan seperti kopi yang tak pernah sama rasanya di dua cangkir berbeda, Bengras hidup dari kesetiaan untuk terus menyeduh pertemuan dan persaudaraan.
Mungkin, jika Pablo Neruda singgah disini, maka ia akan menulis begini:
“Malam tak menutup matanya di sini,
karena ada kopi yang diseduh dengan cinta.
Dari cangkir ke cangkir, manusia saling mengenal,
bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang sama —
hangat, pahit, dan tulus.
(*)




Komentar