Oleh : Zaky Satria
Padang, sumbar.ngerti.id – Kesenian di Kota Padang tengah berada dalam fase transisi yang sulit dibaca. Ekosistem kreatif masih hidup, tetapi dinamika massanya melemah. Hal itu disampaikan oleh Sfi, 23, panitia Alek Studio Merah, yang telah mengikuti perkembangan komunitas seni kota ini selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Sfi, stagnasi itu tampak nyata di ruang ruang kampus. “Organisasi seni masih ada. Teater, musik, rupa, tari semua berjalan. Tetapi antusiasme mahasiswa turun sangat jauh,” ujarnya. Ia mengingat masa sebelum pandemi ketika panggung seni dipadati penonton muda. “Dulu anak muda menikmati pertunjukan tanpa ragu. Sekarang suasananya berbeda. Lebih sunyi.”
Sfi menilai stagnasi tidak hanya disebabkan oleh turunnya minat. Ia melihat ada perubahan sosial yang lebih luas. Nilai nilai kebersamaan yang selama bertahun tahun menjadi identitas masyarakat Minangkabau perlahan memudar. “Budaya kita terimpit. Orang makin tertutup dan makin sibuk dengan dunia masing masing,” katanya. Perubahan pola interaksi ini, menurutnya, ikut mempengaruhi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan seni.
Di balik panggung, Sfi juga menyoroti persoalan internal yang jarang dibahas. Ia menyebut adanya dinamika yang menghambat proses kreatif. “Ada event yang membutuhkan pemain, tetapi kesejahteraan mereka tidak diperhatikan. Ada keputusan yang tidak berdasarkan kualitas karya, tetapi lebih pada relasi atau kepentingan tertentu,” tuturnya.
Meski demikian, ia belum kehilangan keyakinan terhadap ketahanan para pelaku seni. “Para seniman tetap bekerja. Mereka tetap mencoba,” ujar Sfi. Namun ia mengakui generasi muda semakin jauh dari seni tradisi. Randai, saluang, dan pertunjukan daerah lain makin jarang diminati. “Anak muda memilih gawai. Mereka tidak melihat nilai atau relevansinya,” katanya.
Dalam pandangan Sfi, situasi ini menempatkan kesenian Padang pada persimpangan. Tidak mati, tetapi juga tidak berkembang. Yang dibutuhkan adalah ruang yang lebih inklusif, dukungan yang konsisten, dan keberanian untuk keluar dari pola lama. “Arah itu masih ada. Yang penting ada dorongan untuk melangkah,” ujarnya menutup percakapan.




Komentar