Pariaman, Sumatra Barat — Langit sore di Pantai Gandoriah, Minggu (6/7/2025), penuh warna dan air mata. Tabuik akhirnya “tabuang ka laut”. Tapi yang dibuang bukan hanya replika menara megah itu, melainkan juga duka, haru, dan harapan masyarakat Pariaman yang selama sepuluh hari terakhir telah hidup bersama semangat kebersamaan. Kini, festival budaya Tabuik 2025 telah usai, namun cerita dan getarannya masih terasa di tiap sudut kota.
Minggu pertama Muharam tahun ini bukan pekan biasa. Kota kecil di pesisir barat Sumatra ini menjadi magnet ribuan manusia. Dari warga lokal, perantau, wisatawan nusantara, hingga turis asing tumpah ruah menyaksikan prosesi budaya yang hanya ada satu di dunia: Hoyak Tabuik.
Tradisi, Duka, dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Tabuik bukan hanya perayaan. Ia adalah warisan, cerita tentang kesetiaan, duka, dan semangat perjuangan. Setiap tahun, masyarakat Pariaman memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Hussein, yang gugur dalam tragedi Karbala. Tapi mereka tak hanya mengenangnya lewat doa, melainkan juga dengan membangun dua bangunan besar berbentuk menara indah, meng-arak, dan melemparkannya ke laut sebagai simbol pelepasan duka. Sepanjang sepuluh hari, dua kawasan Subarang dan Pasa membangun tabuik masing-masing. Warga tua, muda, laki-laki, dan perempuan terlibat dalam prosesnya. Malam-malam mereka isi dengan zikir, tabuhan gendang tasa, dan persiapan puncak acara.
Ekonomi Rakyat Tersenyum, UMKM Panen Berkah
Tidak hanya hati yang dipenuhi rasa bangga, tapi juga kantong warga yang ikut senang. Festival Tabuik 2025 jadi berkah ekonomi bagi para pelaku usaha kecil. Mulai dari pedagang makanan, penjual aksesoris, pengelola penginapan, hingga tukang parkir, semuanya merasakan peningkatan pendapatan. Dinas Pariwisata Kota Pariaman mencatat peningkatan pendapatan ekonomi lokal hingga 45 persen selama masa Tabuik berlangsung.
Anak Muda Makin Aktif, Budaya Tak Sekadar Nostalgia
Satu hal yang membuat Tabuik 2025 terasa istimewa adalah keterlibatan anak muda. Dari tim dokumentasi, penata artistik, hingga kelompok pengarak Tabuik, banyak wajah-wajah baru yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Pemerintah setempat juga menggelar berbagai lomba dan pelatihan seni selama Tabuik berlangsung. Tujuannya, mendorong anak muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tapi pelaku budaya.
Tabuik Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Cermin Jiwa Masyarakat
Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan hanya sekadar tontonan budaya. Ia adalah simbol semangat, cinta terhadap sejarah, dan kekuatan kebersamaan. Dan meskipun tabuik telah di Hoyak kemudian dibuang ke laut, semangat dan harapannya tetap tumbuh di darat di hati setiap orang yang menyaksikannya.
Sebab, seperti kata orang tua di Pariaman: “Tabuik ka lauak ditabuang, tapaso nan indak hilang.” (Tabuik boleh hanyut ke laut, tapi semangatnya takkan hilang.)
(Dza)




Komentar