Oleh : Zaky Satria
Padang Pariaman, sumbar.ngerti.id — Di tengah menjamurnya budaya ngopi cepat saji dan gelombang kafe modern yang seragam, INA Coffee memilih jalur berbeda. Berdiri sejak akhir 2017, kedai ini menjadi pelopor slow bar di Kabupaten Padang Pariaman. Di sini, kopi bukan sekadar penawar kantuk, tapi medium untuk kembali mengenali waktu dan proses.
Pendiri INA Coffee, Ikhsan Pratama Saputra, alumnus Teknik Informatika Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang angkatan 2008, membangun kedainya dengan konsep rumahan. Meja kayu, ruang sederhana, dan suara gilingan biji menjadi ciri khas yang membuat pengunjung merasa dekat.
“Kami ingin suasananya seperti rumah teman sendiri, santai, tapi tetap berkarakter,” ujar Ikhsan.
Konsep slow bar yang diusung INA Coffee berangkat dari filosofi third wave coffee — gerakan global yang menempatkan kopi sebagai karya, bukan komoditas. Di kedai ini, setiap penyeduhan dilakukan dengan metode manual brew, seperti V60 dan AeroPress, yang memberi ruang bagi barista dan pelanggan untuk berdialog dengan rasa.
“Masyarakat di sini sangat teredukasi dengan kehadiran slow bar pertama,” katanya.
Melalui proses penyeduhan terbuka, pelanggan belajar mengenal body, acidity, dan karakter single origin dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memahami bahwa rasa tidak datang dari kecepatan, tapi dari presisi dan kesabaran.
Pelanggan INA Coffee datang dari pekerja muda, karyawan formal, hingga komunitas lokal. Banyak di antara mereka yang awalnya hanya mencari tempat duduk, lalu berakhir dengan ketertarikan baru terhadap dunia kopi.
“Kami ingin setiap cangkir punya cerita dan karakter sendiri,” ujar Ikhsan.
Meski belum bekerja sama langsung dengan petani kopi Padang Pariaman, INA Coffee berfokus pada edukasi konsumen, sebuah langkah awal menuju sistem direct trade yang berkelanjutan. Ikhsan juga berencana menambah varian single origin agar pelanggan bisa mengenal kekayaan rasa nusantara dari Aceh, Toraja, hingga Flores.
Budaya ngopi di Lubuk Alung perlahan berubah. Dari sekadar rutinitas, menjadi ruang pertemuan ide dan percakapan. Di balik bar kecil INA Coffee, keheningan dan percakapan tumbuh bersamaan.
“Saya selalu percaya, kopi punya irama sendiri,” kata Ikhsan. “Tugas kita hanya menyesuaikan diri pada tempo itu.”




Komentar