Penulis : Bima Devriansyah (Mahasiswa KKN Universitas Andalas 2025 di Nagari Panti Selatan)
Pasaman — Di balik hamparan sawah dan perbukitan Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, hidup sebuah tradisi yang sederhana namun sarat makna. Makan Bubua, tradisi makan bubur kacang hijau bersama, masih terjaga di Kampung Ujung Padang, Jorong Petok Timur.
Tradisi ini tidak sekadar soal menyantap makanan, melainkan mencerminkan nilai-nilai sosial, solidaritas, serta identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Minangkabau yang dikenal kaya akan adat istiadat.
Saya berkesempatan berbincang langsung dengan Pak Ujang, seorang anak mudo pemangku adat di Ujung Padang. Dengan ramah ia menyambut saya di rumahnya.
“Dulu sebelum tahun 1992, kendaraan belum bisa masuk ke kampung kami. Semua bahan makanan tergantung pada hasil kebun. Bubur kacang hijau itu dipilih karena gampang dibuat, tidak mahal, dan bisa disantap ramai-ramai,” ujar Pak Ujang membuka percakapan.
Akar Sejarah Makan Bubua
Tradisi Makan Bubua bermula dari kondisi geografis dan keterbatasan akses masyarakat Ujung Padang di masa lampau. Karena medan yang sulit ditembus, bahan makanan dari luar sangat jarang masuk. Masyarakat pun mengandalkan hasil bumi lokal seperti kacang hijau, santan, dan gula aren—bahan utama bubur kacang hijau.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi tradisi adat yang selalu dihadirkan dalam rangkaian yang harus dilalui dalam adat pernikahan. Makan Bubua ini dilaksanakan pada duduk serumah (Duduk musyawarah bersama keluarga terdekat kedua mempelai yang biasanya juga dihadiri oleh tetangga terdekat), kemudian pada duduk penghulu (duduk ninik mamak, biasanya ini juga mengundang masyarakat, pemuda, dan semua lapisan masyarakat)
“Dulu kalau ada acara di rumah siapa saja, masyarakat duduk bersama, makan bubur, sambil membicarakan urusan kampung. Dulu juga ada iuran Rp5.000 dari warga untuk membantu pihak rumah. Itu sudah jadi kebiasaan kami,” kenang Pak Ujang.
Dalam pelaksanaannya, Makan Bubua selalu melibatkan berbagai unsur masyarakat: penghulu, ninik mamak, tetangga, keluarga, serta pemuda kampung. Duduk bersama menikmati semangkuk bubur menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga harmoni dalam komunitas.
Simbol Solidaritas dan Identitas Budaya
Dari perspektif sosiologi dan antropologi budaya, tradisi Makan Bubua adalah manifestasi dari solidaritas mekanik sebagaimana dikemukakan oleh Émile Durkheim. Dalam masyarakat tradisional seperti Ujung Padang, ikatan sosial tidak hanya dibangun atas dasar kepentingan ekonomi, melainkan lebih pada kesamaan norma, nilai, dan rasa kebersamaan.
“Makan Bubua itu bukan soal perut kenyang. Ini cara kami menjaga hubungan, saling menguatkan, dan menghormati adat,” jelas Pak Ujang.
Tradisi ini juga mencerminkan filosofi Minangkabau: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” — di mana adat dan norma agama saling menguatkan. Melalui kegiatan sederhana ini, masyarakat belajar tentang pentingnya gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap sesama.
Menolak Modernisasi Kuliner
Menariknya, tradisi ini sempat menghadapi tantangan modernisasi. Ada upaya untuk mengganti bubur kacang hijau dengan makanan lain yang dianggap lebih modern atau lebih mewah. Namun, upaya ini mendapat penolakan keras dari masyarakat adat.
“Pernah ada yang coba ganti dengan makanan lain, tapi kami semua sepakat menolak. Bubur kacang hijau itu bukan sekadar makanan, itu bagian dari identitas kami,” tegas Pak Ujang.
Penolakan ini menunjukkan betapa kuatnya kesadaran kolektif masyarakat Ujung Padang dalam mempertahankan warisan budaya. Bagi mereka, tradisi tidak boleh sekadar ikut arus zaman, tetapi harus dijaga kemurniannya agar tetap memiliki makna yang otentik.
Kebijaksanaan dalam Kesederhanaan
Selain sebagai bagian dari adat, Makan Bubua juga mencerminkan kebijaksanaan lokal dalam menjalankan kehidupan sosial. Pilihan bubur kacang hijau sebagai hidangan utama bukan semata karena ketersediaan bahan, tetapi juga karena kesederhanaannya memudahkan seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi.
“Kalau makanan berat atau mewah, kan memberatkan tuan rumah. Dengan bubur, semua bisa ikut, semua bisa menikmati, tanpa ada yang merasa terbebani,” tambah Pak Ujang.
Dalam bubur kacang hijau itu tersimpan pesan penting: kesetaraan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap nilai-nilai sederhana namun bermakna. Tradisi ini mengajarkan bahwa dalam hidup bermasyarakat, kebersamaan jauh lebih penting daripada kemewahan.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Kini, di tengah gempuran globalisasi, tradisi Makan Bubua tetap dipertahankan oleh masyarakat Ujung Padang. Generasi muda seperti Pak Ujang berperan aktif dalam menjaga agar tradisi ini tidak punah.
“Kami selalu ajak anak-anak muda untuk terlibat. Supaya mereka paham, ini bukan sekadar makan bubur, tapi bagian dari jati diri kampung kita,” tutup Pak Ujang.
Dari semangkuk bubur kacang hijau, masyarakat Ujung Padang mengajarkan kepada kita bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.




Komentar