Jakarta – Gairah industri film Indonesia tengah mengalami momentum kebangkitan. Sejumlah film lokal sukses mencetak jutaan penonton, festival-festival film makin ramai digelar, dan minat masyarakat terhadap tontonan karya anak negeri semakin meningkat. Namun, di balik geliat tersebut, ada tantangan besar yang masih membayangi: minimnya jumlah layar bioskop yang tersedia untuk menampung film-film lokal.
Dalam diskusi yang digelar pada ajang Cannes Film Festival 2025, sejumlah pelaku industri menggarisbawahi bahwa pertumbuhan pesat perfilman nasional tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur, khususnya dalam hal distribusi film. Linda Gozali, perwakilan dari JAFF Market, mengungkapkan bahwa Indonesia hanya memiliki 2.293 layar bioskop untuk melayani populasi sekitar 280 juta jiwa. Artinya, satu layar harus melayani lebih dari 117 ribu orang.
“Jika dibandingkan, Korea Selatan hanya memiliki rasio sekitar 1 layar untuk 15 ribu orang, sementara di Amerika Serikat satu layar melayani sekitar 9 ribu warga,” ujar Linda. Ketimpangan ini membuat film-film Indonesia harus berebut slot tayang, bahkan untuk bertahan di bioskop selama satu minggu pun sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Fenomena ini terasa ironis ketika di saat bersamaan film-film seperti Jumbo, produksi animasi dari Visinema Pictures, berhasil menarik hampir 10 juta penonton dalam waktu singkat. CEO Visinema Group, Angga Dwimas Sasongko, menyebut bahwa keberhasilan ini tak lepas dari strategi distribusi yang matang, kolaborasi kuat antar pelaku industri, serta konten yang sesuai dengan selera pasar.
“Kunci pertumbuhan industri ini ada pada kolaborasi yang berkelanjutan dan peningkatan akses terhadap layar bioskop,” kata Angga. Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah, khususnya untuk mendorong pembangunan jaringan bioskop di daerah-daerah yang belum tersentuh.
Minimnya layar bukan hanya membatasi jangkauan film lokal, tapi juga menghambat munculnya film-film alternatif dan independen yang kerap kesulitan mendapatkan ruang. Tak sedikit karya berkualitas yang hanya beredar di festival dan tidak pernah menyapa layar bioskop publik karena kalah saing dengan film-film blockbuster.
Untuk itu, pelaku industri dan pemerintah diharapkan bisa duduk bersama merancang solusi yang lebih berkelanjutan, mulai dari insentif untuk pembukaan bioskop di kota-kota kecil, hingga kebijakan afirmatif untuk mendukung distribusi film nasional.
Industri film Indonesia boleh bersemangat, tapi tanpa penambahan layar, antusiasme ini bisa terhambat oleh tembok distribusi yang terlalu sempit. <mtr>




Komentar