Oleh : Zaky Satria
Padang, sumbar.ngerti.id – Budaya ngopi di Kota Padang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dari sudut kota lama hingga gang sempit dekat kampus, kedai-kedai kopi tumbuh bak jamur di musim hujan. Lampu kuning hangat, musik pelan, aroma biji sangrai, serta barista yang ramah menjadi bagian dari lanskap baru pergaulan anak muda. Namun, di balik atmosfer yang nyaman itu, ada cerita lain, lebih senyap, lebih melelahkan, yang datang dari orang-orang yang menjadi tulang punggung industri ini.
Rama (21), seorang pekerja di salah satu coffeeshop, sudah satu tahun bergulat dengan pelanggan. Ia memilih pekerjaan ini bukan karena tuntutan, melainkan karena kedekatannya dengan lingkungan pertemanan di dunia kopi dan passion terhadap kopi. “Awalnya cuma suka nongkrong di kedai, lama-lama pengin belajar bikin minuman,” katanya.
Setiap hari, sebelum pelanggan datang, Rama sudah memulai tugasnya: membuka kedai, mengecek stok, mempersiapkan peralatan, menyapu lantai, memutar musik, dan menyusun meja. Pelanggan biasanya mulai berdatangan menjelang senja, pukul lima sore. Dari titik itu, ritme berubah dari tenang menjadi sibuk. “Kalau rame, ya lembur. Tapi namanya kedai, rame itu bagus. Cuma ya capek.”
Selama bekerja, ia bertanggung jawab pada segalanya: menyapa pelanggan, membuat minuman, mengantarkan pesanan, mengatur parkir saat kedai penuh, hingga membantu membersihkan ketika shift berakhir. Namun di balik jam kerja yang panjang, ada hal-hal yang tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Tips? “Nggak pernah dapat,” jawabnya singkat.
Rama hanya mendapatkan satu hari libur dalam seminggu. Tidak ada asuransi kerja, tidak ada perlindungan khusus, tidak ada jaminan kesehatan. Ketika ditanya bagian paling berat, ia menjawab, “Tekanan pas ramai. Semua minta cepat, kita cuma dua orang di bar.” Keadaan itu, menurutnya, adalah risiko yang dianggap “normal” oleh banyak pemilik usaha kecil. Kelelahan fisik dan mental menjadi bagian tak terucap dari industri yang tampak penuh lampu estetik.
Di balik realita itu, Rama menyimpan optimisme. Ia percaya pekerjaan ini memberinya fondasi. “Kalau mau bertahan di industri kopi, harus kuasai semua. Dari roasting, latte art, bahkan kalau bisa sampai budidaya kopi. Sertifikasi juga penting,” katanya. Ia tidak hanya bekerja, ia belajar, mengamati tren, dan memahami budaya ngopi yang terus berubah.
Budaya tersebut menurutnya tidak sama lagi seperti dulu. “Dulu orang ngopi buat ngobrol. Sekarang kadang cuma buat konten,” ucapnya sambil tertawa pahit. Perubahan landscape ini tidak hanya memengaruhi interaksi pelanggan, tetapi juga tekanan pada pekerja. Semakin tinggi ekspektasi estetika, semakin besar beban kerja di balik layar.
Kisah Rama membuka potret yang jarang terlihat dari industri kedai kopi modern. Seiring bisnis kopi berkembang, pekerja justru berhadapan dengan sistem yang masih rapuh, tanpa perlindungan kerja, tanpa standar kesejahteraan, tanpa pengakuan atas skill yang mereka bangun. Sementara pelanggan merayakan ruang nyaman untuk bersantai, pekerja di balik bar justru berpacu dengan waktu, tekanan, dan beban yang sering diabaikan.
Industri kopi di Kota Padang memang terus melahirkan tren, konsep, dan ruang kreatif baru. Tapi pertanyaannya: sampai kapan kenyamanan pengunjung harus ditopang oleh kelelahan pekerja yang tak pernah masuk dalam narasi publik?




Komentar