Padang, sumbar.ngerti.id — Dinamika politik kampus kembali menghangat menjelang Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Andalas tahun 2025. Dari berbagai pasangan calon yang tampil, sosok Muhammad Nabil Azka dan Muhammad Fajri mencuri perhatian dengan semangat dan gagasan yang baru.
Nabil, mahasiswa FISIP Universitas Andalas angkatan 2022, bukan nama baru di lingkaran kepemimpinan mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup BEM KM Unand. Rekam jejak itu memperlihatkan kepedulian dan konsistensinya terhadap gerakan mahasiswa yang berorientasi pada dampak nyata, bukan sekadar simbolik.
Sementara itu, pasangannya, Muhammad Fajri dari Fakultas Teknologi Informasi (FTI) angkatan 2022, dikenal lewat kiprahnya sebagai Gubernur BEM KM FTI. Pengalamannya di ranah teknokratik dan manajerial membuatnya akrab dengan sistem dan efisiensi, dua hal yang menjadi fondasi penting bagi tata kelola organisasi mahasiswa modern.
Mengusung nomor urut 3, duet mahasiswa angkatan 2022 ini membawa visi yang merangkum empat kata kunci: inklusif, sinergitas, advokatif, dan implementatif. Empat istilah yang tampak sederhana, namun jika dicermati, mencerminkan arah baru dalam tata kelola organisasi mahasiswa, lebih terbuka, terhubung, dan berorientasi hasil. Pasangan ini menekankan bahwa makna “inklusif” bukan sekadar jargon, melainkan komitmen membuka ruang bagi seluruh elemen mahasiswa terlepas dari fakultas dan latar belakang, untuk ikut menentukan arah gerakan bersama.
“BEM KM Unand haruslah menjadi wadah bagi seluruh golongan mahiswa yang ada. Karena perubahan yang nyata itu berasal dari gerakan bersama, gerakan semua elemen. ,” ungkap Nabil setelah pencabutan nomor urut paslon.
Fajri menambahkan, aspek “advokatif” dan “implementatif” adalah dua hal yang saling mengunci. “Advokasi tanpa implementasi hanya berhenti di retorika. Kita ingin memastikan setiap kebijakan dan isu mahasiswa mendapat tindak lanjut konkret, bukan sekadar pernyataan sikap,” ujarnya.
Pasangan nomor urut 3 ini juga menekankan pentingnya mengembalikan semangat BEM KM Unand sebagai wadah bersama, bukan hanya representasi satu golongan. Dengan pendekatan kolaboratif dan persuasif, mereka berharap dapat menciptakan pola kepemimpinan yang lebih terbuka, akuntabel, dan berdampak langsung bagi kehidupan mahasiswa.
Dengan mengusung empat pilar utama inklusif, sinergitas, advokatif, dan implementatif, Nabil dan Fajri tampaknya ingin membawa BEM KM Unand ke arah yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan mahasiswa.




Komentar