Kontributor : Deza Putra Adelyen
Padang, Sumatra Barat – Di era global yang serba cepat, jadi pemimpin bukan sekadar soal jabatan, tapi soal kesiapan mental, tanggung jawab, dan yang paling sering dilupakan: rekam jejak digital. Hal ini diingatkan langsung oleh anggota DPD RI, Cerint Irlloza Tasya, S.Ked., saat menjadi pemateri dalam Bimbingan Teknis Pengurus Ikatan Alumni Diniyyah Pasia Cabang Kota Padang yang baru saja dilantik di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Jumat siang (27/6/25).
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Membangun Jiwa Kepemimpinan dan Nasionalisme Pemuda/i di Era Global”, Cerint secara lugas membongkar tantangan besar yang harus dihadapi generasi muda yang ingin tampil sebagai pemimpin masa depan. Kegiatan ini dibuka dengan Pelantikan Pengurus IKatan Alumni Diniyyah Pasia Cabang Padang Masa Bakti 2025-2028, acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Ketua Umum (IADP) Kota Padang, Aldhy Darza Yustika. Aldhy berharap, dengan adanya kontribusi semangat dari kalangan muda yang hadir pada acara, bisa menambah keilmuan dan membangun jiwa-jiwa kepemimpinan dan Nasionalisme Pemuda/i di Era maju ini.

Mengawali penyampaian materinya, Cerint menyoroti ada beberapa yang menjadi kendala bagi Pemuda/i dalam memimpin di era sekarang. Cerint mengatakan, perkembangan zaman (pertukaran budaya) yang sangat cepat berlalu dihadapan kita, menjadikan sebagian masyrakat tidak lagi peduli dengan sesama, yang kita lihat sekarang jutru penerimaannya “apatis”.
Cerint juga menyinggung tantangan yang dihadapi pemuda/i di era maju ini adalah serba digital. Cerint menegaskan “menyerap informasi bisa dengan cepat, tapi masyrakat kita butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi A1, di era yang serba digital sekarang menurutnya banyak informasi hoaks yang beredar, dan informasi yang cepat muncul di media harus di verifikasi dengan ilmu”.
“Jangan lupa, apa yang kita tulis, apa yang kita ucapkan di media sosial, itu semua terekam. Jejak digital itu sulit dihapus. Kalau suatu hari kita ingin maju sebagai pemimpin, semua itu akan dibuka lagi. Bisa jadi bumerang untuk kita sendiri,” tegas Cerint di hadapan peserta seminar.
Ia mencontohkan, beberapa waktu belakangan ini, ramai kasus akun anonim bernama “fufufafa” yang viral karena diduga menebar ujaran kebencian kepada para tokoh Pemerintahan Indonesia. Bahkan, ada nama publik yang ikut terseret, walaupun orang tersebut langsung membantah dengan tegas, “itu bukan akun saya”.
Menurut Cerint, kejadian seperti ini adalah bukti nyata, bahwa siapa pun harus lebih bijak menggunakan media sosial. Apalagi anak muda yang bercita-cita memimpin. Tak hanya soal jejak digital, perempuan yang juga dikenal sebagai dokter ini menyoroti fenomena apatis di tengah masyarakat. Kemajuan teknologi yang seharusnya jadi alat pemersatu, justru kadang membuat generasi muda makin tidak peduli.
“Sekarang pertukaran budaya itu deras sekali, tapi rasa peduli antar sesama malah makin tipis. Banyak yang cuek, nggak peduli sama lingkungan, ini harus jadi perhatian kita bersama,”Ungkapnya.
Cerint Tasya juga mengingatkan, meskipun anak muda dikenal mudah beradaptasi dan cepat belajar, bukan berarti mereka tidak punya kekurangan. Salah satunya, soal relasi sosial. Cerint, memberikan sebuah contoh bagaimana ia membangun relasi dengan aktor pemerintahan yang sudah senior.
“Pemuda kita ini kadang masih minder buat berkenalan, terutama kalau udah urusan ke lembagaan. Padahal, kalau kita berani berteman, berjejaring, banyak program yang bisa kita dorong untuk masyarakat. Contohnya, koperasi, kalau dekat sama masyarakat, kita bisa bantu perbaikan ekonomi mereka,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu pula, Cerint juga menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak lahir sendirian, dan tidak bekerja sendirian.
“Pemimpin itu lahir dari banyak ilmu yang dia serap, dari pengalaman yang dia kumpulkan, dan dari banyak masukan orang lain. Tidak ada pemimpin besar yang lahir sendirian, semuanya hasil proses panjang dan kolaborasi,” tegas cerint.
Acara yang digelar di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang itu dihadiri peserta dari kalangan mahasiswa, organisasi kepemudaan (Pengurus IADP, Cabang Kota Padang). Seminar ini menjadi wadah berbagi ilmu, sekaligus membuka ruang diskusi tentang tantangan kepemimpinan generasi muda di era global.
Salah satu peserta, Didi (19), mengaku termotivasi dengan pemaparan Cerint. “Jadi sadar, ternyata bukan cuma soal ambisi atau skill, tapi juga harus jaga rekam jejak, harus punya jiwa nasionalisme, dan jangan cuek sama sekitar,” katanya.
Menutup materinya, Tasya berpesan agar generasi muda jangan hanya berani tampil, tapi juga siap belajar, siap menjaga sikap, dan tetap peduli dengan lingkungan.
“Kalau semua itu bisa kita jaga, saya yakin, pemuda Indonesia bisa tampil sebagai pemimpin hebat, bukan cuma di tingkat lokal, tapi di level nasional bahkan internasional,” tutupnya.
Kehadiran Cerint acara tersebut memberikan suasana kehangatan bagi kalangan pemuda/i yang hadir diacara tersebut. Ketua Umum (IADP) Kota Padang, Aldhy Darza Yustika mengucapkan Terima Kasih kepada Senator Muda Cerint Irlloza Tasya, S.Ked. anggota DPD RI, yang turun lansung menjadi pemateri dalam acara untuk kalangan Mahasiswa,dan Pemuda/i.
“Dengan Menambah kapasitas keilmuan pada kalangan pemuda/i, ini akan berdampak pada lingkungan ke organisasian” tutup Aldhy.




Komentar