Padang, sumbar.ngerti.id — Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Padang menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan bedah film “Soekarno” (2013) karya sutradara Hanung Bramantyo, Selasa (29/10/2025).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPC GMNI Padang, Afdhal Setiawan, tersebut menghadirkan dua pemantik dari Universitas Negeri Padang (UNP), yakni Zul Asri, dosen sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNP (1986–2025), dan Alim Harun Pamungkas, doktor dari Departemen Pendidikan Nonformal UNP.
Acara dimulai pukul 17.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Ketua DPC GMNI Padang, Aldhy Darza Yustika. Dalam sambutannya, Aldhy menegaskan pentingnya semangat pemuda untuk terus dirawat dan diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan saat ini.
“Semangat pemuda pada tahun 1928 harus kita pertahankan hingga hari ini. Kemerdekaan sejati bangsa Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Pada sesi pembukaan, kegiatan juga diwarnai dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda secara lantang oleh Wakil Ketua Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Polhukam) DPC GMNI Padang, Zikri Akbar Rantisi. Momentum tersebut menjadi penegasan simbolik atas semangat persatuan dan nasionalisme yang terus dijaga oleh kader GMNI.
Setelah pembukaan, peserta mengikuti pemutaran film “Soekarno” dengan khidmat. Film tersebut menggambarkan perjalanan hidup Ir. Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menjadi bahan refleksi bagi para kader.
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan bedah film yang dimoderatori oleh Silvia Yunita, anggota Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Dalam pemaparannya, Zul Asri menekankan pentingnya peran pemuda sebagai motor perubahan bangsa sejak era pergerakan nasional.
“Sembilan puluh tujuh tahun yang lalu, pada hari dilaksanakannya Sumpah Pemuda ini, seluruh pemuda yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia di Batavia kala itu adalah orang-orang yang seumuran dengan anda pada saat ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Alim Harun Pamungkas menyoroti semangat Sumpah Pemuda dari sudut pandang psikologis dan pendidikan.
“Analisis situasi pemuda tahun 1928 melalui perspektif Perpetual Adolescence memberikan pemahaman bahwa Sumpah Pemuda adalah manifestasi energi arketipal puer aeternus yang positif. Semangat muda yang idealistik, kreatif, dan berani bermimpi melampaui realitas kolonial menjadi dasar lahirnya identitas nasional Indonesia,” jelasnya.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari delapan komisariat GMNI se-Kota Padang, masing-masing mengirimkan tiga peserta.
Menutup kegiatan, Ketua DPC GMNI Padang Aldhy Darza Yustika memberikan refleksi penting tentang keteladanan Bung Karno bagi kader GMNI.
“Ada tiga hal yang harus mampu kader GMNI refleksikan dari sosok Bung Karno ini: pertama, mempunyai visi; kedua, memiliki seni dalam menjaga persatuan; dan ketiga, menjadikan diskusi sebagai aksi nyata. Warisan terbesar yang ditinggalkan Bung Karno bukanlah patung atau nama jalan, melainkan Marhaenisme,” tutup Aldhy.
Melalui kegiatan ini, GMNI Padang berharap semangat persatuan, nasionalisme, dan ideologi Marhaenisme terus hidup dalam diri generasi muda, khususnya kader GMNI sebagai pelanjut cita-cita perjuangan Bung Karno.




Komentar