Yogyakarta — Nama Aishah Prastowo kembali mencuri perhatian publik setelah kisahnya sebagai akademisi muda lulusan luar negeri yang memilih berkarier di dunia pendidikan nasional kembali menjadi perbincangan. Lulusan program doktoral di bidang Engineering Science dari Universitas Oxford, Inggris ini kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Praxis di Yogyakarta.
Aishah tercatat sebagai salah satu penerima awal beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan berhasil menuntaskan studi S3 pada usia yang sangat muda, yakni 23 tahun. Meski awalnya bercita-cita menjadi peneliti, perjalanan hidup membawanya ke dunia pendidikan, terlebih saat pandemi COVID-19 memunculkan peluang besar dalam pengajaran daring.
“Saat itu, mengajar secara online menjadi salah satu opsi paling nyata, dan dari sanalah semuanya bermula,” ujar Aishah dalam unggahan LPDP pada 27 Juni 2025.
Langkah Aishah menekuni profesi sebagai guru hingga kini menjadi kepala sekolah sering menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat, mengingat latar akademiknya yang sangat mentereng. Namun, baginya, kontribusi di bidang pendidikan tak kalah penting dibanding jalur penelitian akademik.
“Saya tetap mencintai penelitian, tapi mungkin caranya berbeda sekarang,” tuturnya.
Ia pun mengakui bahwa pada awalnya ia bercita-cita untuk bekerja di laboratorium dan melakukan riset mandiri. Namun kenyataan membawa dirinya untuk membagikan pengetahuan melalui pendidikan menengah, khususnya melalui pendekatan interdisipliner yang ia pelajari saat menempuh S2 di Université Paris Descartes, Prancis.
“Kadang manusia bisa merancang masa depan, tapi tak semua berjalan sesuai rencana,” tambahnya.
Sekolah yang kini ia pimpin, SMA Praxis, mengusung pendekatan STEAM (science, technology, arts, and mathematics), yang merupakan hasil pemikirannya selama studi di luar negeri. Ia berharap pendekatan ini bisa memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dan relevan bagi generasi muda Indonesia.
Dalam pesannya kepada publik, Aishah menekankan pentingnya kontribusi meskipun dalam bentuk kecil.
“Jangan merasa minder atau gagal hanya karena belum memberi dampak besar. Justru dampak kecil yang nyata sering kali lebih terasa oleh orang-orang di sekitar kita,” pesannya.




Komentar