Padang, sumbar.ngerti.id – Di Desa Hangping, Provinsi Zhejiang, China, benda-benda lama hidup bersama warga. Ada ingatan yang melekat pada cara benda itu digunakan, disimpan, dan diceritakan kembali dalam keseharian.
Karioredjo Rainër, mahasiswa Magister Antropologi Universitas Andalas asal Suriname, mengikuti program Traveling of Eyes in China pada pertengahan 2025. Program ini mengajak mahasiswa mengenal tradisi rakyat melalui lukisan, riset, dan pertemuan langsung dengan masyarakat desa.
Selama berada di Hangping, Rainër menyusuri ruang hidup warga. Ia mendengar kisah dari masyarakat, mengamati benda-benda lama, lalu mencatat jejak budaya yang tersimpan di baliknya.
“Ini bukan kerja lapangan biasa,” ujar Rainër. “Saya belajar bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang cukup dilihat dari jauh. Kita perlu menyentuhnya, menafsirkannya, lalu menceritakannya kembali.”
Rainër mengenal Indonesia melalui beasiswa pada 2018. Pada 2019, ia melanjutkan studi Sarjana Ilmu Komunikasi. Kini, ia menempuh Magister Antropologi di Universitas Andalas dengan beasiswa. Di luar kampus, Rainër juga menulis puisi dan sedang menggarap dua manuskrip.
Dalam program tersebut, peserta diajak masuk ke ruang-ruang warga. Mereka mendengar cerita masyarakat, memilih benda lama, lalu mengolahnya menjadi karya. Benda yang dipilih diamati, dilukis, diteliti, dan dipresentasikan dalam pameran.
“Benda-benda itu terlihat sederhana,” kata Rainër. “Tapi di dalamnya ada cerita tentang kerja, keluarga, tradisi, dan waktu.”
Bagi Rainër, Hangping menjadi ruang pertemuan antara Suriname, Indonesia, dan China. Percakapan dengan mahasiswa serta warga berangkat dari hal dekat: asal negara, bahasa, makanan, dan kebiasaan sehari-hari.
“Kami saling bertanya tentang negara, bahasa, dan makanan,” ujarnya. “Lalu saya sadar, rasa ingin tahu kami sama.”
Satu pengalaman yang melekat terjadi saat seorang lansia desa menjelaskan fungsi benda lama yang digunakan turun-temurun. Benda itu bukan pajangan. Benda itu masih berada dalam alur hidup warga.
Pengalaman tersebut mengingatkan Rainër pada Indonesia. Banyak tradisi tetap bergerak melalui keluarga, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat. Tradisi tidak selalu hadir lewat arsip besar. Sering kali, tradisi bertahan dalam percakapan kecil dan praktik yang diwariskan.
“Tradisi tidak rapuh sejak awal,” katanya. “Tradisi menjadi rapuh ketika orang berhenti peduli.”
Rainër pulang dari Hangping dengan catatan, lukisan, dan pengalaman riset. Namun, relasi dengan orang-orang yang ditemui selama program menjadi bagian yang paling lama tinggal dalam ingatan.
“Teman-teman dan dosen di sana terasa seperti keluarga,” tuturnya. “Kami berbagi makanan, bahasa, tawa, dan saling membantu.”
Rainër berharap lebih banyak mahasiswa berani mencari kesempatan belajar lintas negara. Menurutnya, pengalaman semacam ini dapat dibuka oleh rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba.
“Kamu tidak butuh latar belakang sempurna,” katanya. “Yang penting rasa ingin tahu, inisiatif, dan kemauan belajar.”
Dari sudut pandang antropologi, pengalaman Rainër di Hangping menunjukkan bahwa budaya bergerak melalui hubungan manusia dengan ruang, benda, ingatan, dan praktik sosial. Warisan tidak berdiri sendiri sebagai peninggalan masa lalu. Warisan hidup ketika masyarakat masih memberi tempat bagi cerita, fungsi, dan nilai yang melekat di dalamnya.
Zaky Satria




Komentar