Jakarta – Komika sekaligus aktor Pandji Pragiwaksono akhirnya buka suara terkait polemik materi stand up comedy-nya yang menyinggung adat Toraja. Ia menegaskan tidak berniat menyinggung siapa pun melalui lelucon tersebut.
Pandji menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Toraja yang merasa tersinggung atas materi lawakannya.
“Saya sadar bahwa saya ignorant dalam penulisan joke itu. Saya tidak bermaksud menyinggung masyarakat Toraja, dan karena itu saya memohon maaf kepada masyarakat Toraja yang tersinggung,” ujar Pandji saat ditemui di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025).
Ia menuturkan bahwa dirinya sudah melakukan dialog langsung dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), khususnya dengan Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi.
“Saya berdialog dengan teman-teman dari AMAN. Ibu Sekjennya, Bu Rukka Sombolinggi, juga ikut berdiskusi,” ungkap Pandji.
Dalam pertemuan itu, keduanya membahas informasi mengenai sanksi adat berupa 96 ekor hewan (kerbau dan babi) serta uang tunai Rp2 miliar. Menurut penjelasan Rukka, kabar tersebut belum sah menjadi keputusan adat karena masih menunggu hasil dialog bersama perwakilan dari 32 wilayah adat Toraja.
“Beliau menjelaskan bahwa masyarakat Toraja harus berdialog lebih dulu dengan perwakilan dari 32 wilayah adat. Jadi, sebelum dialog itu terjadi, masyarakat belum menetapkan hukuman,” jelas Pandji.
Pandji menambahkan, sebagian besar masyarakat Toraja tidak menjatuhkan hukuman apa pun. Meski begitu, ia tetap berencana memberikan sumbangan sebagai bentuk itikad baik.
“Mungkin nanti saya akan memberikan sumbangan. Itu bukan hukuman, melainkan simbol niat baik agar hubungan ini tetap terjaga dengan baik,” ucapnya.
Sebelumnya, Pandji sudah menyampaikan permintaan maaf pada publik atas leluconnya tentang budaya pemakaman Rambu Solo’. Ia mengakui bahwa materi yang ia buat sembilan tahun lalu kurang menghargai nilai dan makna budaya Toraja secara mendalam.




Komentar