Gunung Marapi yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali erupsi. Letusan terjadi dua kali dalam dua hari berturut-turut. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi, menyampaikan bahwa erupsi pertama terjadi pada Senin malam (14 Juli 2025) sekitar pukul 19.15 WIB dan berlangsung selama 31 detik.
“Telah terjadi erupsi Gunung Marapi, Sumatera Barat pada tanggal 14 Juli 2025 pukul 19.15 WIB. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 12.5 milimeter dan durasi 31 detik,” jelas Ahmad Rifandi.
Letusan disertai abu vulkanik, tetapi tinggi kolom abunya tidak dapat diamati secara visual. Saat ini, status Gunung Marapi masih berada di Level II atau Waspada. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari Kawah Verbeek, pusat letusan gunung ini.
Pada keesokan harinya, Selasa (15 Juli 2025) pukul 10.32 WIB, Gunung Marapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Meskipun tidak terlihat secara visual, alat pengukur mencatat erupsi dengan amplitudo maksimum 15,6 milimeter dan durasi selama 34 detik.
“Telah terjadi erupsi G. Marapi, Sumatera Barat pada hari ini, pukul sepuluh lewat dua puluh tiga menit waktu Indonesia barat, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum lima belas koma enam millimeter dan berdurasi tiga puluh empat detik,” ungkap Rifandi.
Selama sepekan terakhir, tercatat lima kali erupsi disertai dengan berbagai jenis gempa vulkanik dan tektonik. Rifandi menjelaskan bahwa pada tanggal 14 Juli 2025 saja, terjadi satu kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa tektonik lokal, dan satu kali gempa tektonik jauh. Durasi dan kekuatan gempa bervariasi, menunjukkan aktivitas dalam perut Gunung Marapi masih cukup tinggi.
Ahmad Rifandi juga mengimbau masyarakat di sekitar gunung, khususnya yang tinggal di aliran sungai dari puncak Marapi, agar waspada terhadap potensi banjir lahar dingin, terutama saat musim hujan tiba.
Ia juga meminta masyarakat untuk tetap memakai masker jika terjadi hujan abu, guna menghindari penyakit seperti ISPA. “Seluruh pihak diminta menjaga kondusifitas di masyarakat, tidak menyebarkan berita bohong, dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya,” tegas Rifandi.
Gunung Marapi dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau Sumatera. Letusan besar terakhir terjadi pada Desember 2023 yang menyebabkan korban jiwa. Tim pemantau dari PVMBG terus bekerja 24 jam untuk mengamati perkembangan aktivitas gunung dan memberikan informasi kepada masyarakat.
Dengan status waspada yang masih berlaku, masyarakat diminta untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif, dan selalu mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.




Komentar