Penulis : Bima Devriansyah (Mahasiswa KKN Unand di Nagari Panti Selatan)
Pasaman — Di tengah modernisasi yang semakin cepat, banyak tradisi lama yang mulai terkikis. Salah satunya adalah Tumbuk Tunggak, sebuah ritual adat masyarakat di Ujung Padang, Jorong Petok Timur, Panti Selatan, Kabupaten Pasaman. Tradisi ini dahulunya lekat dengan proses membangun rumah serta upacara adat pernikahan, namun kini perlahan mulai ditinggalkan.
Menurut penuturan Nenek Sarikam, salah seorang penumbuk tunggak di masanya, Tumbuk Tunggak adalah prosesi menumbuk tunggak, yakni tiang rumah yang akan dipakai sebagai simbol penguatan, restu, dan doa sebelum bangunan rumah difungsikan.
“Dulu ampo padi ditumbuk pakai lasuang panjang, kayunya panjang, suaranya besar. Kalau sekarang sudah banyak pakai kayu biasa saja,” ujar Nenek Sarikam mengenang masa lalu.
Dari Tradisi Sakral ke Pelengkap Penyambutan
Awalnya, Tumbuk Tunggak dilakukan sebagai bagian sakral dalam upacara pernikahan. Saat penghulu dan sandi adaik (tokoh adat) telah duduk dalam acara, prosesi penumbukan dilakukan sebagai simbol penyatuan keluarga dan memohon kelancaran bagi pasangan baru.
Namun seiring waktu, fungsinya bergeser. Kini, tradisi tersebut lebih banyak dijadikan bagian dari prosesi penyambutan tamu penting, dan tidak lagi sepenuhnya terikat dengan upacara pernikahan.
Teknik dan Iringan Musik yang Mulai Dilupakan
Pada masa jayanya, Tumbuk Tunggak bukan sekadar aktivitas menumbuk kayu. Ada teknik, irama, bahkan musik pengiring yang harus dipelajari dengan serius.
“Dulu benar-benar belajar ketukan. Ada ‘geretek’ (pukulan), ‘tingkah’, pakai ‘giriang-giriang’ (kerincing) atau ganto di kayu penumbuk. Harus pandai meningkah,” tutur Nenek Sarikam.
Setiap penumbuk punya peran dalam menciptakan ritme yang harmonis. Bahkan, ada sebuah lagu yang kerap dinyanyikan saat prosesi berlangsung:
“Kalau gak ada tumbuk tunggak, anaknya akan tuli.”
Lagu ini menjadi pengingat bahwa prosesi Tumbuk Tunggak bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari filosofi hidup masyarakat Minang.
Perbedaan Pendapat dan Mulai Pudar
Sayangnya, tidak semua kalangan sepakat untuk terus melestarikan tradisi ini. Ada yang menganggapnya kuno, sementara generasi muda kini banyak yang kurang paham makna di baliknya.
“Dulu, setelah duduk penghulu, pagi-pagi masyarakat langsung datang tanpa diundang. Sekarang beda, banyak yang tidak ingin lagi dihadirkan. Lama-lama ya hilang,” kata Nenek Sarikam.
Perubahan pola pikir ini menyebabkan kurangnya regenerasi dalam pelestarian Tumbuk Tunggak. Teknik menumbuk, lagu, dan irama yang dulunya diwariskan secara turun-temurun kini jarang diajarkan lagi.
Alat Tradisional: Alu dan Lasuang Panjang
Dalam tradisi ini, digunakan dua alat utama:
- Alu — kayu panjang sebagai penumbuk
- Lasuang Panjang — wadah besar tempat kayu ditumbuk
Keduanya tidak hanya berfungsi praktis, tetapi juga memiliki makna simbolik: penguatan fondasi rumah, penguatan relasi antarwarga, serta pengharapan untuk kehidupan yang harmonis.
Menjaga Jejak Budaya
Meski kian jarang dipraktikkan, kisah-kisah seperti yang diceritakan Nenek Sarikam menjadi pengingat bahwa tradisi seperti Tumbuk Tunggak adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Minangkabau di Pasaman.
Diperlukan kesadaran bersama, khususnya dari generasi muda, untuk tidak sekadar mengenal tetapi juga menjaga agar warisan ini tidak benar-benar hilang ditelan zaman.






Komentar