Silvia Yunita, mahasiswi tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Andalas
Belasan mahasiswa Universitas Andalas (Unand) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Pauh Sangik, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, dikabarkan hilang saat menjalankan program kerja (proker) di kebun kopi. Bersama mereka, juga ikut hilang warga setempat yang mendampingi. Insiden ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kampus tertua di Sumatera Barat ini.
Bagaimana tidak? Pembekalan KKN yang diberikan selama ini terlalu teoritis dan tidak kontekstual terhadap medan yang akan dihadapi mahasiswa, terutama mahasiswa rantau yang tak punya bekal pengalaman hidup di daerah rawan bencana seperti Sumbar. Tidak ada pelatihan navigasi darat, tidak ada simulasi mitigasi bencana, tidak ada pemahaman survival dasar. Padahal kita hidup di daerah patahan aktif, rawan longsor, banjir, gempa, bahkan kawasan hutan yang jadi habitat satwa liar. Sumatera Barat bukan playground.
Universitas Andalas adalah institusi besar dengan cakupan mahasiswa yang semakin beragam dan mengglobal. Tapi ironis, makin luas sebaran mahasiswanya, makin dangkal pula penyadaran kontekstual terhadap Sumatera Barat sebagai ruang hidup yang kompleks. Anak-anak rantau bahkan banyak yang tidak tahu bahwa Sumbar adalah zona merah bencana. Lalu apa yang sebenarnya disiapkan kampus? Kertas kerja? Template proker? Slide pembekalan yang penuh teori?
Tak hanya pembekalan KKN, bahkan sejak Training Andalasian Character pun hal-hal seperti ini luput dibahas. Padahal inilah momen yang tepat untuk membangun karakter survival, kemampuan membaca ruang, dan berpikir taktis di lapangan. Bukan sekadar jargon “mengabdi untuk negeri”, tapi juga siap mental dan fisik mengabdi di negeri rawan bencana.
Realita di lapangan jauh dari narasi ideal. Proker seringkali disusun ketika sudah sampai lokasi, minim riset dan tidak terstruktur. Pengawasan lemah. Dosen pembimbing lapangan hanya hadir saat antar-jemput. Mahasiswa bebas kesana-kemari, seolah KKN adalah ajang camping dadakan. Lalu saat terjadi sesuatu, siapa bertanggung jawab?
Pertanyaan kritis harus diajukan:
Apakah kebun kopi itu selama ini tidak terawat tanpa mahasiswa KKN? Apakah esensi proker hanya tentang datang, konten, pulang? Apakah benar KKN adalah wadah pemberdayaan SDM lokal, atau hanya formalitas 4 SKS dengan hasil nihil dan keberlanjutan dipertanyakan?
KKN seharusnya menjadi ruang transformatif. Tapi yang terjadi kini malah menyisakan ironi. Universitas perlu bertanya: Apakah kita sedang mendidik agen perubahan atau justru sedang mencetak generasi yang tidak berpikir struktural?
Jika proker baru ditemukan saat sudah di lokasi, maka artinya Unand sedang gagal dalam membangun perencanaan strategis pada mahasiswanya. What we do must be what we planned. Ada tujuan, ada to-do list, ada strategi. Bukan ya udah liat nanti aja gimana di lapangan.
Kebun, gunung, hutan – itu bukan tempat main-main. Fisik, kesiapan mental, hingga pemahaman medan adalah hal mendasar. Masuk hutan tidak cukup hanya dengan niat dan semangat. Apalagi mayoritas mahasiswa adalah anak kota. Yang kuat naik, yang lemah? Hipotermia? Halusinasi lalu dibilang kesurupan?
Sumbar adalah tanah yang indah, namun juga keras dan penuh risiko. Sebelum kita bicara pengabdian, kampus harus terlebih dahulu menyiapkan mahasiswanya menjadi manusia yang sadar ruang, sadar risiko, dan sadar arah.
Kalau tidak, lebih baik kita evaluasi ulang makna dan pelaksanaan KKN itu sendiri. Daripada hanya jadi beban warga, atau bahkan petaka bagi anak-anak yang katanya turun ke desa demi pemberdayaan. Mahasiswa hilang bukan sekadar insiden. Pendidikan tanpa mitigasi adalah kelalaian institusional.




Komentar
luar biasa